Domain provided by Idcloudhost
Hosted by Vercel
Created using Jekyll
Seperti yang kita ketahui, bahwa kasus kriminal di Indonesia dan di seluruh dunia masih ada. Para pelaku kejahatan selalu mencari cara dan kesempatan untuk melancarkan aksinya. Perlu usaha ekstra untuk mengatasi kasus kriminal yang semakin kompleks dan bervariasi ini. Kepolisian juga perlu memahami motif dari para pelaku dalam menjalankan aksinya. Di paper ini, saya tidak hanya membahas motif para pelaku kejahatan, melainkan juga membahas modus yang biasa digunakan dan teknik-teknik yang bisa dilakukan untuk mencegah dan memberantas kriminal itu sendiri.
Banyaknya tindak kriminal yang ada di Indonesia tentunya sangat meresahkan masyarakat. Mulai dari tindak pidana korupsi, pembunuhan, penganiayaan, dan yang lainnya, seolah menjadi hiasan di kehidupan manusia. Padahal, kita semua menginginkan kehidupan yang damai, aman, dan tanpa adanya masalah. Namun, beberapa orang merusak kedamaian dan ketenangan di dunia ini dengan tindak kriminal. Dilandasi oleh rasa resah itu, saya mencoba untuk menganalisisnya dalam sebuah paper yang mungkin tidak memenuhi kaidah saintifik dan tidak layak untuk dimasukkan kedalam jurnal.
Rumusan masalah dari paper ini adalah:
Setelah melihat, menganalisa, dan mengingat berbagai kasus kriminalitas yang terjadi diberbagai daerah di Indonesia (sebagai objek penelitian), saya menemukan bahwa kasus kriminalitas disebabkan oleh banyak faktor, yaitu:
Mahalnya biaya hidup di Indonesia dan rasa gengsi yang tinggi menyebabkan biaya hidup dan gaya hidup meningkat. Hal ini yang menyebabkan banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang, salah satunya adalah dengan melakukan tindak kriminal berbasis moneter (seperti mencuri, merampok, menyopet, dan yang sejenisnya). Faktor ekonomi memang sering menjadi motif seseorang untuk melakukan tindak kriminal, karena hidup ini terus berjalan dan manusia selalu memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan seperti makan, pengobatan dikala sakit, dan kebutuhan primer serta sekunder lainnya inilah yang biasanya membuat situasi ekonomi menjadi sulit. Terlebih, banyak pekerjaan di Indonesia yang bergaji rendah (jangan tanyakan pekerjaan tersebut kepada saya, karena saya juga tidak hafal detailnya), sehingga turut memperparah situasi ekonomi keluarga.
Dengan terus meningkatnya populasi manusia didunia ini dan kebutuhan hidupnya yang tidak pernah berkurang (namun malah bertambah), maka memperoleh barang pemuas kebutuhan menjadi semakin sulit, dan memaksa setiap manusia untuk saling bersaing untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Krisis ekonomi, gagal panen, dan kerusakan alam menjadi sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Akhirnya, banyak kasus kriminalitas yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan mungkin akan terus bertambah. Awalnya, terjadi defisit keuangan pribadi atau keluarga yang disebabkan oleh meningkatnya pengeluaran yang tidak diimbangi dengan peningkatan penghasilan (bisa berupa gaji yang stagnan/menurun, pemecatan dan PHK, serta sebab-sebab lain yang menyebabkan penghasilan tidak meningkat). Terlebih, di situasi pasca pandemi Covid-19, dimana banyak sektor ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, menyebabkan banyak keluarga yang rentan mengalami kemiskinan.
Saat kondisi menjadi semakin memburuk, seseorang/satu keluarga itu akan memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah keuangan yang dihadapinya. Mungkin, sebagian orang akan memilih hutang sebagai alternatif solusi, namun hutang hanyalah solusi jangka pendek dari masalah ekonomi. Bunga yang tinggi (utamanya jika berhutang via aplikasi pinjaman daring dan rentenir luring) dan tempo pengembalian yang pendek seringkali menimbulkan masalah baru. Budaya "gali lubang tutup lubang" inilah yang seringkali menjerat kalangan menengah kebawah. Memang, mereka tidak punya banyak pilihan lagi untuk bertahan hidup, apalagi keluarga dari kalangan ini biasanya memiliki banyak anak (inilah motivasi saya untuk tidak menikah, yaitu mencegah kehancuran karir dan ekonomi pribadi). Dengan kondisi yang semakin rumit ini, banyak orang yang berpikir jangka pendek dan melakukan berbagai tindak kriminalitas yang mengincar harta dari korban. Walaupun tidak semua kasus kriminal dimotivasi oleh faktor ekonomi, namun faktor ekonomi juga menjadi salah satu indikator.
Kadang, ada tekanan-tekanan yang menyebabkan seseorang melakukan tindak kriminal. Misalnya, tekanan batin akibat rasa iri yang berlebihan, rasa dendam, dan rasa cemburu. Rasa iri yang berlebihan bisa menyebabkan seseorang menghalalkan segala cara untuk memuaskan rasa irinya itu. Banyak tindak perampokan, pemerasan, dan penganiayaan yang disebabkan oleh rasa iri ini. Biasanya, pelaku pada kasus ini menargetkan psikologi dan harta pelaku. Ia melakukannya untuk menunjukkan bahwa ia bisa mengalahkan korbannya dari sisi apapun (yang sedang dipersaingkan).
Rasa iri ini kadang mengalahkan kasih sayang dan rasionalitas. Banyak contoh dari kasus kriminal yang disebabkan oleh rasa iri, seperti pencurian Iphone yang dilandasi rasa iri karena ia tidak bisa membelinya, perampasan sepeda motor tipe sport yang biasanya akan digunakan pelaku untuk bergaya, dan lain sebagainya. Tindak kriminal yang dilandasi oleh rasa iri ini, kadang tidak bisa ditebak asal dan kronologinya. Bisa saja ia mencuri di daerah A karena iri pada harta orang-orang di daerah B, atau sebaliknya, atau pencurian di daerah tempat ia tinggal karena iri dengan tetangganya.
Selain rasa iri, ada pula tindak pidana yang dilandasi oleh rasa dendam. Salah satu bentuk emosi ini kadang bisa membuat seseorang meninggalkan logika dan akal sehatnya. Kadang, dendam kesumat menyebabkan seseorang menghalakan segala cara untuk membalaskan dendamnya tersebut. Dendam dan rasa sakit hati ini biasanya disebabkan oleh kejadian masa lalu yang melibatkan korban dan pelaku, dimana ada kemungkinan korban ini telah melakukan sesuatu yang memancing rasa dendam dan menyakiti perasaan sang pelaku, sehingga ia melakukan tindak kriminal yang bertipe kekerasan. Tindakan-tindakan ini biasanya dilakukan tanpa mempertimbangkan apapun, dan menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan masalahnya dengan orang lain.
Dengan melihat hal-hal diatas, maka faktor psikologi menjadi cukup rumit untuk ditelaah. Kita perlu mengurutkan setiap kasus yang ada, dan kronologinya sekaligus. Kita juga perlu menganalisa bagaimana psikologi bisa membawa pengaruh yang signifikan dalam kasus tindak kriminal. Nanti, saya akan membahas lebih detail tentang pengaruh emosi dalam kehidupan, di paper lain. Disini, saya akan membahas secara perlahan terkait faktor psikologi ini. Lihat kutipan ilustrasi berikut untuk memahami maksud saya (nama disamarkan):
Tersebutlah kisah di Jakarta, seorang karyawan yang bernama 'A'. Ia dikenal rajin dan cekatan dalam bekerja. B, bos dari A, menyukai cara kerjanya dan menghargainya dengan kenaikan gaji. Berbeda dengan C, yang kurang rajin dalam bekerja. C yang iri dengan A lantas mengajak A pergi ke suatu tempat. Katanya, A hendak diajak makan malam berdua. Namun, ditengah jalan, A ditarik oleh C dan dianiaya secara sadis. Kebetulan, disana juga ada D dan E yang melihat kejadian itu. Kaget karena dipergoki, si C juga menganiaya si D. Sementara si E berhasil kabur dan melaporkan kejadian itu ke polisi. Ia bekerjasama dengan polisi dan ikut dalam pencarian bukti kasus. Namun, si E dihalangi oleh si A. Ia menyewa pengacara dan melaporkan si E atas kasus pelecehan seksual, yang aslinya tidak pernah dilaporkan si E. Sementara B lebih berpihak pada si E, dan menyewakan pengacara untuk melawan si A.
Dari kutipan diatas, kita bisa melihat bahwa kasus kriminalitas juga bisa berkembang menjadi lebih rumit dan kompleks, tergantung apa motif dan taktik yang dilakukan oleh pelaku. Dari sana, kita melihat bahwa rasa iri yang berlebihan juga bisa menimbulkan pikiran negatif.
Kadang, beberapa kasus kriminalitas juga berasal dari kombinasi berbagai faktor-faktor pendukung. Seperti kondisi ekonomi pribadi yang sedang memburuk namun masih ingin menyaingi orang lain, dendam yang juga diiringi rasa ingin menguasai harta seseorang, dan lain-lainnya. Hal ini merupakan sebuah teka-teki yang rumit dalam kehidupan. Berbagai faktor yang saling berkaitan dan kombinasi dari beberapa diantaranya menjadikan penyelidikan sebuah kasus kriminalitas menjadi sulit.
Dengan melihat berbagai kasus kriminalitas yang ada di Indonesia, saya menemukan bahwa banyak kasus kriminal kompleks yang melibatkan berbagai faktor-faktor yang saling berkaitan (akan dibahas di paper lain)
Kasus kriminal merupakan pekerjaan rumah bersama. Pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi dan bekerjasama dalam mengatasi masalah-masalah yang ada di lingkungan tempat tinggal, serta memastikan bahwa kasus kriminalitas tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat.
Diterbitkan Pada: 2023-07-17 08:00:00 +0000
Published On: 2023-07-17 08:00:00 +0000